Posts

Angin..

pada suatu hari, terdapat seorang gaadis kecil yang duduk di sebuah gurun pasir. Matanya yang kering, dingin terhembus angin.. hembusan tersebut membuatnya terasa perih.. kemudian matanya pun mengeluarkan air. jauh sebelumnya,ia tak pernah mengira bahwa hembusan angin yang meski sebentar itu, selain membawa dingin juga membuat matanya perih, berlinang air mata. setelah sekian lama menatap nanar kehidupannya, ia baru menyadari bahwa memang angin itu yang ia butuhkan untuk kepanjangan umur matanya. mekipun perih, setidaknya ia sudah berhasil berkedip. lalu kemudian pandangan matanya pun kembali jernih.. sempat terlintas ia benci dengan pandangannya kini, yang telah memaksakan lepas dari fana dan kembali ke realitas. bahwa tujuannya yang sebenarnya bukanlah gurun. meski ribuankali memberi nyaman, namun perlahan mematikannya. dengan penuh kesadaran itu, ia kembali bangkit. dan meneruskan perjalanannya.. ------- hai angin aku ingin berterima kasih.. meski sejenak kau menyejukan, perih...

Kamu Pernah Iri?

"Apakah kau pernah iri?" ini adalah salah satu hal yang amat sangat ingin kuketahui dari setiap orang. Jika kau mengenalku, mungkin kau akan menilaiku sebagai orang yang sangat tidak peduli terhadap apapun yang kau lakukan. Sebab, memang sejak dulu, ibuku mengajarkan ku untuk tak perlu mengusik hal yang tidak menjadi kepentinganku. dan aku sepakat. mengeluarkan energi yang tak perlu kau keluarkan untuk hal yang tak penting untuk hidupmu akan membuatmu jauh lebih sehat. yaaa meskipun banyak pula yang mendistraksimu, mengatakan bahwa kau terlalu naif. atau... munafik. oke, mari kita lupakan sejenak soal permunfikan duniawi. dari sekian banyak hal yang ada di muka bumi ini, akhirnya aku merasa iri. aku iri pada seseorang yang terus berada di samping seorang yang kupikirkan. bisa berkelahi, tertawa bersama, berbagi kesedihan. aku iri padanya. membayangkanku berada di posisinya, tampaknya menyenangkan. seolah aku bisa menikmati hidup 1000 kali lebih nikmat dari biasanya. m...

Apa yang Kamu Cari di Usia 26 Tahun?

Senin, 1 Agustus 2022. Hari ini tampak begitu cerah. Mungkin saking cerahnya cuaca hari ini hingga membuat hatiku panas. Aku kesal mendengar kabar yang ku dapatkan hari ini. Benar-benar tampak menjengkelkan. Aku tidak paham dengan apa yang terjadi pada manusia-manusia di sini. Tak bisa mengenal atau mengingat nama, lupa caranya mengapresiasi, dan sangat tidak terbuka dengan datangnya inisiasi-inisiasi baru. Harus menjadi seperti apa aku agar mereka tampak aware? Haruskah aku unjuk diri? Membicarakan hal yang tak jelas, layaknya tong kosong nyaring bunyinya? Mencari-cari muka dengan cara yang menggelikan? Atau menjilat dengan cara yang menjijikan? Sungguh aku tidak paham dengan isi kepala orang dewasa di sini. ------------ Balik lagi dengan kabar yang ku dapatkan hari ini. Aku memang sebal dan aku sangat kecewa. Apa yang mereka nilai tentang ku sebenarnya? Mengapa mereka bisa sekali mengambil keputusan sepihak? seolah aku tidak bernilai di matanya? Dan paling parahnya lagi, ak...

Hidup itu..

Hidup itu pembelajaran.. Hari ini kau melakukan kesalahan, lalu kau perbaiki di hari kemudian. Hidup itu pembelajaran.. Hari ini kau bertemu orang yang salah, lalu kau cari orang terbaik kemudian. Hidup itu pembelajaran.. Hari ini kau kecewa, lalu kau bentengi dirimu di hari kemudian. Hidup itu pelajaran.. Hari ini kau berkeluh kesah, lalu kau temukan solusinya kemudian. Hidup itu pembelajaran.. Hari ini kau mencoba membuka diri pada semesta, lalu kau ingin menutup diri kembali kemudian. Hidup itu lucu.. Untukmu yang hanya ingin selalu tertawa kemudian.

Pertemuan di Tengah Salju

Image
Foto oleh  Artem Podrez  dari  Pexels Suatu hari, kutemukan seseorang di tengah hamparan salju. Ia melirik, tapi dingin dan tak hiraukan sapaanku. Sangat kaku, bahkan ketika kuberi hangat, ia tak izinkan. Berlama-lama kutemani, ia pun tak mengelak. Hingga berlama-lama ia mulai menghangat. Lalu saling bertegur sapa. Berjalan bersamanya mengiringi hamparan salju. Ia berjalan di belakangku. Ia dengan setia membantu, dan menolongku. Ia sabar dengan penasaranku. Menatap dalam dan memperhatikan..  Ia sedang mempelajari sesuatu, pikirku. "Seluas apa tempat sedingin ini?" "Entahlah, jalan saja terus. Akan ada ujungnya atau tidak, kau dapat melihatnya nanti." Ucapannya berhasil meyakiniku,  ucapan yang kuyakini akan membawaku ke akhir penantian ku Aku percaya, maka kuteruskan langkahku. Semakin melangkah, kumulai merasakan hangat di area belakangku "Apakah ia menghangat?" Kuintip ia sepintas dan kuterus melangkah. Kehangatan di belakangku, membuatku nyaman. Kehanga...

Mereka Bilang

Katanya, ketika kita merasa klik dengan seseorang, artinya kau sudah menemukannya. Katanya, semakin kita meributkan banyak hal, itu akan membuat hubungan semakin erat. Katanya, jika banyak halangan di antara kalian, maka makin dekat kebahagiaan di akhirnya. Nyatanya, sama saja. Lalu.. Mereka bilang, banyaknya perbedaan di antara kalian, justru akan makin menguatkan satu sama lain. Mereka bilang, tidak perlu takut menjalani hal di luar semestinya, akan membawamu ke akhir yang berujung bahagia. Mereka bilang, mencoba mengambil langkah duluan, akan membawamu ke akhir seperti yang kamu inginkan. Nyatanya, sama saja. Dan.. Dia bilang, banyaknya hal yang dilalui; manis, pahit, asam, dll, justru malah akan membuat harimu berwarna. Dia bilang, dengan menjadi diriku sendiri, maka aku akan diterima. Dia bilang, menjadi jujur dan menjadi sedikit tega, akan melindungi diri dari hal yang tidak diinginkan, demi orang yang tersayang. Nyatanya, sama saja. Kemudian.. Kubilang, semua kelengkapan puzzle ...

Menerka Rasa

Banyak orang yang bilang bahwa terperangkap dalam jebakan yang sama itu adalah sebuah kebodohan. Tapi bagiku hal tersebut sepertinya sudah bagaikan lauk.  Apa kau juga suka makan dengan lauk? Aku malas menjadi pintar, aku bahkan terlalu malas untuk menjadi bodoh. Kalau kau mengasihani ku karena hal tersebut. Jelas, aku akan menerimanya. Menari-nari di bawah pelanggi, yang orang-orang bilang itu indah..  Hei kau! cobalah sini dan rasakan. Tidak ada bedanya. Ingin sekali aku menunjukkannya. Tapi, rasa di bawah standar malasku seperti mati rasa. Lantas apa yang harus dilakukan oleh seorang yang uring-uringan sepertiku ini? Apa kau pernah peduli? Menunjukan sikap perhatianmu pada orang sekitar dan lainnya. Lalu tunjukan, bagaimana kau mengekspresikan rasa pedulimu?