Kamu Pernah Iri?
"Apakah kau pernah iri?"
ini adalah salah satu hal yang amat sangat ingin kuketahui dari setiap orang.
Jika kau mengenalku, mungkin kau akan menilaiku sebagai orang yang sangat tidak peduli terhadap apapun yang kau lakukan. Sebab, memang sejak dulu, ibuku mengajarkan ku untuk tak perlu mengusik hal yang tidak menjadi kepentinganku. dan aku sepakat.
mengeluarkan energi yang tak perlu kau keluarkan untuk hal yang tak penting untuk hidupmu akan membuatmu jauh lebih sehat. yaaa meskipun banyak pula yang mendistraksimu, mengatakan bahwa kau terlalu naif. atau... munafik. oke, mari kita lupakan sejenak soal permunfikan duniawi.
dari sekian banyak hal yang ada di muka bumi ini, akhirnya aku merasa iri.
aku iri pada seseorang yang terus berada di samping seorang yang kupikirkan.
bisa berkelahi, tertawa bersama, berbagi kesedihan. aku iri padanya.
membayangkanku berada di posisinya, tampaknya menyenangkan.
seolah aku bisa menikmati hidup 1000 kali lebih nikmat dari biasanya.
menggenggam hangat dan mendengar rangkaian kata indah yang ia utarakan.
sungguh ia adalah seorang yang beruntung.
jika kau berpikir bahwa rasa iriku akan berdampak negatif. tampaknya tidak.
anehnya, aku turut berbahagia. jika ini bisa membuat hidup antara keduanya bahagia, maka aku mendukungnya secara penuh. ku ingin menjadikan kobaran pedih ini menjadi cahaya terang yang menuntun keduanya menuju tempat idaman semua orang.
hei.. kau sangat-sangat beruntung.
dan berbahagialh..
ini adalah untaian kalimat yang ingin kusampaikan padanya.