Pertemuan di Tengah Salju
![]() |
| Foto oleh Artem Podrez dari Pexels |
Suatu hari, kutemukan seseorang di tengah hamparan salju.
Ia melirik, tapi dingin dan tak hiraukan sapaanku.
Sangat kaku, bahkan ketika kuberi hangat, ia tak izinkan.
Berlama-lama kutemani, ia pun tak mengelak.
Hingga berlama-lama ia mulai menghangat.
Lalu saling bertegur sapa.
Berjalan bersamanya mengiringi hamparan salju.
Ia berjalan di belakangku.
Ia dengan setia membantu, dan menolongku.
Ia sabar dengan penasaranku.
Menatap dalam dan memperhatikan..
Ia sedang mempelajari sesuatu, pikirku.
"Seluas apa tempat sedingin ini?"
"Entahlah, jalan saja terus. Akan ada ujungnya atau tidak, kau dapat melihatnya nanti."
Ucapannya berhasil meyakiniku,
ucapan yang kuyakini akan membawaku ke akhir penantian ku
Aku percaya, maka kuteruskan langkahku.
Semakin melangkah, kumulai merasakan hangat di area belakangku
"Apakah ia menghangat?"
Kuintip ia sepintas dan kuterus melangkah.
Kehangatan di belakangku, membuatku nyaman.
Kehangatan itu timbul di tengah-tengah rasa dingin. Aneh, bukan?
Kuterus terlena dengan kehangatan itu.
Seperti dopping yang membuatku candu.
Membuatku makin bersemangat.
Aku semakin kuat.
Semakin lama berjalan, semakin pula takku temukan ujungnya.
Aku pun mulai merasa aneh.
"Mengapa semakin jauh? apakah aku tersesat?"
Namun kutepis pikiran itu, karena kuyakin akan ujung perjalanan ini.
Tidak. Lebih tepatnya, aku percaya pada arahannya padaku.
Hingga semakin hari, kuku jariku semakin pucat.
Kehangatan yang berasal dari tubuhku perlahan mulai menghilang.
"Apa yang terjadi?"
Sungguhku terkejut ketika ku tengok ke belakang.
Sosok itu berubah menjadi butiran salju yang menguap tak berupa hanya persekian detik.
Tak berkata, tak pula menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang ia lalui.
Hingga detik demi detik serpihannya pun tersapu angin.
Perlahan-lahan.. Hingga jejaknya pun kian memudar.
Ingin kuraih kehangatan seorang itu untuk pertama dan terakhirnya, namun tubuhku membeku.
Aku tak bisa bertindak apapun.
Hanya dapat melihat, menatap dan meratap.
Lalu ia pun lenyap.
Sekarang aku paham.
Seorang tersebut pada dasarnya hanya sebuah bongkahan es yang menyatu.
Bernyawa tapi hanya untuk dilihat. Tidak untuk dijadikan teman, apalagi dibawa berjalan.
Ia memang senang mengenali hal baru di sekitarnya, tapi ia tak tahan dengan rasa hangat.
Sebab, rasa hangat dari hal yang ia kenali, hanya akan membuat kokohan esnya mencair.
Molekulnya terpencar, lalu ia hancur.
Rasa hangat hanya akan membuat tubuhnya tak beraturan.
Lenyap seketika.
Benar, aku penyebabnya.
Kehangatanku yang ia telah serap, membuatnya hancur berantakan.
Tak berbentuk, tak beraturan.. Aku penyebabnya.
Seandainya aku sadar sejak awal bahwa arti kehangatan itu tidaklah membawa pertanda baik,
Mungkin akan ku hentikan perjalanan ini di tengah-tengah.
Seandainya aku lebih nekat dan tak mempercayai perkataanya,
Mungkin aku bisa menghentikan perjalanan ini sejak awal.
Orang-orang berkata, jika kau berusaha mengumpulkan serpihannya,
Membentuknya kembali seperti boneka salju,
Lalu mengucapkan mantra,
Maka, ia akan kembali menjadi seperti semula.
Dan kebodohanku pun termaafkan.
Ingin, namun urung..
Sudah tidak punya daya untuk lakukan,
Semua energiku, terkuras habis selama perjalanan.
Saking lemasnya, mungkin saat ini aku akan jatuh dan tertidur di tengah hamparan salju.
Kini tubuhku mulai dingin.
Kehangatan di tubuhku sudah habis ia serap.
Tidak ada lagi sisa-sisa kehangatan itu, bahkan bekasnya sekalipun.
Hanya tinggal kenangan yang takkan terulang..
Kenangan yang tak tersentuh, tak terasa..
Hampa tapi indah meski sesaat.
"Terima kasih" seutas kalimat yang paling layak untuk diucapkan.
"Sampai nanti, sampai bertemu lagi." seutas kalimat yang mustahil diwujudkan.
Jika orang-orang bertanya, "Apa keinganmu yang ingin kau wujudkan?"
Maka dengan sigap kujawab, "Aku ingin mengulang waktu, kembali ke saat-saat itu tidak pernah terjadi."
-ARn, 2022.
