Apa yang Kamu Cari di Usia 26 Tahun?

Senin, 1 Agustus 2022. Hari ini tampak begitu cerah. Mungkin saking cerahnya cuaca hari ini hingga membuat hatiku panas. Aku kesal mendengar kabar yang ku dapatkan hari ini. Benar-benar tampak menjengkelkan. Aku tidak paham dengan apa yang terjadi pada manusia-manusia di sini. Tak bisa mengenal atau mengingat nama, lupa caranya mengapresiasi, dan sangat tidak terbuka dengan datangnya inisiasi-inisiasi baru. Harus menjadi seperti apa aku agar mereka tampak aware? Haruskah aku unjuk diri? Membicarakan hal yang tak jelas, layaknya tong kosong nyaring bunyinya? Mencari-cari muka dengan cara yang menggelikan? Atau menjilat dengan cara yang menjijikan? Sungguh aku tidak paham dengan isi kepala orang dewasa di sini. ------------ Balik lagi dengan kabar yang ku dapatkan hari ini. Aku memang sebal dan aku sangat kecewa. Apa yang mereka nilai tentang ku sebenarnya? Mengapa mereka bisa sekali mengambil keputusan sepihak? seolah aku tidak bernilai di matanya? Dan paling parahnya lagi, akupun mulai berpikir Mengapa aku harus terjebak lagi-lagi dalam situasi yang seperti ini? ------------ Ini mengesalkan. Aku membenci detik demi detik hari ini, di tempat ini. Tapi meski demikian pun, aku juga ragu jika mengenyampingkan.. Karena sesungguhnya aku juga membutuhkan tempat ini. Haftttt.. Apakah ini yang namanya "terjebak"? Lalu, apakah masih ada tempat seramah ini untukku di luar sana? ------------- Menjengkelkan. Egoku berkata aku ingin pergi. Namun, logika belum mengizinkanku untuk "harus" menginggalkan tempat ini Sebab, lagi-lagi aku takut. Apakah masih ada tempat yang mau menerima ku yang seperti ini? -------------- Sesungguhnya aku juga cukup jengkel jika harus berada di atas dan dihafal atas aku. Karena hal tersebut, nyatanya hanya menyusahkanku kemudia. Namun, berada di pinggiran seperti ini pun membuatku tidak nyaman. Hal ini membuatku bertanya.. Lalu hal apa yang ku inginkan sebenarnya? Hal apa yang membuat diriku puas? Dan hal apa yang membuat diriku nyaman dan berada? --------------- Karena hal ini, lagi-lagi aku harus mencari tahu dan mengolah diriku lagi. Mungkin aku tidak cukup mengenal diriku, namun lelah sekali rasanya menjalani hari di dalam pencarian ini. Aku benci tumbuh dewasa. Terlalu banyak hal-hal menyusahkan yang terus-terusan membuatku sabar. Aku ingin bergantung saja. Bergantung pada yang maha kokoh tanpa perlu ku bersusah payah. Namun, hidup terus berjalan bukan? Hidup memaksaku menjadi dewasa dan melalui hal menyebalkan ini. --------------- DUIT (Doa, Usaha, Ikhtiar, dan Tawakal) Itu kata para pemuka agama. Sabar, sabar, sabar... Itu yang terus lahap hingga kenyang. Sesungguhnya, karma apa yang sedang ku jalani saat ini? Apakah boleh, jika aku berhasil melalui ini, aku ingin istirahat di suatu tempat Di mana ku tak perlu berpindah-pindah lagi? Bertahan hingga ku tua nanti? --------------- Meski menyesalkan, lagi-lagi naluri baikku berkata bahwa, Semuanya akan baik-baik saja. Aku akan meningkat dan mencapai apa yang ku mau. Iya, aku tahu aku harus positif. Banyak hal baik yang akan ku temukan selanjutnya. Tapi...... Izinkan egoku bergejolak dulu. Sungguh. Aku ingin benar-benar marah. Marah pada dunia yang lagi-lagi tak adil padaku.

Popular posts from this blog

Dia

Aku dan Cintaku

Nothing